Sunday, March 2, 2008

Mama, Sempurna..

Masih inget nggak sih waktu sekolah dulu?
Ngibul sama orang tua, bilangnya belajar di rumah temen, padahal ke bioskop ma temen-temen.
Mati-matian ngebantah orang tua padahal hati kecil kita tau mereka benar. Emang dasar aja pengen ngebantah.
Minta dibeliin barang sampe nangis guling-gulingan. Kalo nggak diturutin, ngambek tujuh hari tujuh malem trus cerita ke temen-temen betapa nggak sayangnya ortu sama kita.
Apalagi temen-temen cewe yang menggelapkan uang buku atau pacaran backstreet (yang ini alhamdulillah saya nggak pernah tu).
Pengalaman pribadi sih, saya lebih sering durhaka ke Mama daripada ke Papa.
Saya inget betapa konyolnya saya kalo ngambek. Kan waktu sekolah dulu saya punya rambut panjang yang selalu dikepang Mama dengan penuh ketelatenan (maklum deh, dulu rambut saya keriting mie instan, kebayang kan susahnya mengepang rambut kaya gitu?). Kalo menurut saya tu rambut nggak rapi, bakal saya buka dengan garang dan sambil diacak-acak pula. Kebayang kan perjuangan Mama untuk ngerapiinnya?
Belom kalo saya melototin Mama (bener loh, saya sering melototin Mama waktu zaman durhaka dulu) dan makian-makian yang saya lontarkan itu.. aduuhh..
Dan dari pengamatan pribadi nih, kayanya emang lebih banyak anak perempuan yang durhaka ke ibu mereka daripada anak laki-laki.
Kenapa?
Karena kami, anak-anak perempuan, kelak akan ngerasain hamil dan ada kemungkinan besar didurhakai anak-anak mereka.
Waktu ngerasain gimana pengalaman hamil, saya bener-bener ngrasa mendingan mati daripada inget pernah durhaka sama Mama zaman dahulu kala.
Bayangin, waktu mengandung saya dulu, Beliau masih ngerjain pekerjaan rumah tangga.
Sambil ngrawat kedua kakak saya.
Saya masih jauh lebih beruntung coz masih numpang ma ortu, masih ada yang bantu ini-itu dan nggak ada anak laen yang harus saya rawat.
Pasti Beliau ngrasain kaki kram, pinggang nyeri, punggung ngilu-ngilu.
Pasti tidur-tidur malam Beliau keganggu tendangan saya.
Atau terganggu HIV (Hasrat Ingin Vivis) akibat tubuh saya yang makin besar dalam rahim Beliau.
Pasti naek tangga jadi sangat menyiksa.
Jarak tempuh tiga menitnya sebelum hamil, akan jadi sepuluh menit seiring membesarnya perut.
Tapi Beliau masih akan mengusap perut yang di dalamnya ada saya itu dengan penuh kasih sayang dan membisikkan kata-kata cinta, tak pernah menganggap saya sebagai beban.
Ketika sambil nangis dangdut saya minta maaf pada Beliau, Mama cuma ketawa sambil bilang gini, "Mama udah maafin dari dulu, kok. Tiap kali kamu bikin salah, Mama maafin saat itu juga."
Ah, jadi Ibu yang sesempurna Mama, sanggupkah saya?


Tuesday, November 20, 2007

Harapan

Anak ini..
Mungkin dia akan punya mata teduh bapaknya dan senyum manis ibunya.
Mungkin dia akan mewarisi banyak kesabaran bapaknya dan sedikit saja keseleboran ibunya.
Mungkin dia akan bermain gitar secanggih bapaknya dan dapat merangkai puisi seperti ibunya.
Lalu, karena bapaknya dapat melucu dengan wajah serius dan ibunya sering salah menangkap humor, semoga anak ini punya tawa menggemaskan yang sering diperdengarkan olehnya dan punya selera humor yang lebih baik dari ibunya.
Semoga dia santun seperti bapaknya dan lebih kreatif daripada ibunya.
Semoga dia jago komputer seperti bapaknya, jangan seperti ibunya yang cuma bisa ngetik.
Apapun itu, bapak dan ibunya hanya bisa berharap, mudah-mudahan mereka diberi kekuatan oleh Alloh SWT untuk menjadikan dia sehat, bahagia, mencukupinya dengan kasih sayang dan ilmu pengetahuan.
Aduuuuhhh.. belum lahir saja, ibunya sudah jatuh cinta sedalam iniiii..!!!!

Datanglah Nak, Ibu Menantimu..

Nah.
Sebelum saya menikah, sudah ada beberapa orang yang menasihati untuk nggak terlalu berharap segera diberi anak oleh Tuhan yang Maha Kuasa, karena anak adalah amanat-Nya, nggak semua orang bisa memiliki.
Ya sudah, mengingat saya juga kayanya belum becus jadi Ibu.
Iyalah. Kalo dipikir secara logika, Tuhan mana yang mau mengamanatkan sesuatu seberharga anak pada makhluk ceroboh-slebor-nggak sabaran-emosian kaya saya?
Tapi emang ya, Alloh punya pertimbangan tersendiri, karena dua bulan setelah menikah, saya dinyatakan positif hamil dua minggu.
Sebetulnya saat itu saya masih percaya-nggak percaya, masa iya, SAYA, diberi kepercayaan besar ini?

Tapi saya nurut aja deh apa kata dokter.
Minum susu, katanya. Ya udah, minum.
Banyak makan buah dan rajin ngemil. Itu sih udah dari dulu, hehehe..
Bahkan ketika saya mengalami apa yang dibilang morning sick, saya masih antara percaya dan enggak bahwa saya memang hamil.
Barulah saat di-USG dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa di rahim saya ada janin sepanjang 3 sentimeter berusia sepuluh minggu, dengan bentuk kepala yang sudah terlihat, tonjolan jantung, setitik kecil mata, dan tangan super mini yang menengadah ke atas, baru saya ngeh.
Ya Alloh, saya hamil! Subhanallah!
Selama sekolah, setiap pelajaran biologi dan melihat gambar janin, saya nggak pernah merasakan apa pun. Tapi saat melihat janin dalam rahim saya itu, saya yakin:
itulah janin paling cantik yang pernah saya lihat.
Suami saya yang ikutan melihat hasil maha karyanya itu juga nggak komentar apa-apa sih, tapi dari speechless beberapa menitnya, saya tau dia merasakan hal yang sama (deuh..sok yakin yeee..)
Dan perasaan ini memang hanya bisa dirasakan mereka yang sudah mengalaminya kali ya..
Soalnya, ketika saya dan sahabat-sahabat saya janjian bertemu dan dengan gegap gempita saya cerita bahwa janin saya cantik sekali, yang mengiyakan dengan wajah bahagia khas ibu memang cuma Sari yang udah punya balita super kyut itu.
Lucy dengan wajah datar cuma bilang, "Bukannya kaya makhluk laut gitu?"
Dan Yuyung dengan polos bertanya, "Bukannya kaya kacang tanah?"
Lalu saya menatap mereka berdua dengan wajah sok dewasa dan dalam hati berkata, "Ah, kalian nggak akan pernah mengerti sampai mengalami sendiri."

(Maap ye Lus, Yung.. :P)
Mudah-mudahan saya berhasil menjaga amanat ini, membuatnya aman dan sehat hingga saatnya nanti.
Datang ya Nak, Ibu menantimu..

Saturday, November 3, 2007

Dan Saya Masih di Sini..


Saya kenal seseorang yang mampu terbang mengejar mimpi,
sampai sayapnya hancur hingga helai terakhir
Saya juga punya sahabat yang sanggup berlari mengejar mimpi,
sampai kedua kakinya tak lagi mampu berfungsi
Bila kamu bertemu orang seperti itu,
tanyakan, apakah mereka bahagia?
Setimpalkah semua itu ditukar dengan impian mereka?
Semua orang yang berhasil meraih mimpi dengan mengorbankan apa pun yang mereka punya,
pasti akan tersenyum puas dan menjawab ya
Lalu apa yang saya lakukan di sini
Masih terpaku kaku di tanah
Dengan sayap yang masih mengilap dan bersih
Karena saya terlalu takut menghadapi terpaan angin
Karena saya takut kelak tak lagi punya tempat tuk kembali
Karena banyak teman yang terkapar jatuh, bahkan sebelum tiba di tengah jalan
Atau mungkin saja karena saya terlalu banyak cari alasan
Karena impian saya manis dan sederhana
Sesuatu yang dapat tetap dilakukan dengan kaki menginjak tanah
Mencengkeramnya erat-erat
Karena justru itulah yang bisa membuat sayap saya terus mengembang

Friday, October 5, 2007

Buruk Muka, Cermin Dibelah

Sesungguhnya Alloh itu maha lemah lembut, dan memberi karunia karena kelemahlembutan, dan sekali-sekali tidak memberikannya karena kekasaran apa pun atau sejenisnya (HR Muslim)
Banyak orang bilang, kenalilah Islam lewat ajarannya, kitab dan hadistnya, bukan dari pelakunya (baca: orang Islam).
Tapi saya selalu merasa beruntung karena kenal Islam justru lewat seorang pelaku. Senior saya di SMP. Gadis cantik berjilbab lebar dengan tingkah laku lembut dan kata-kata santun. Pun saat banyak orang mencemoohkan jilbabnya (ingat, saat itu tahun 1993, saat masih banyak orang fobia Islam dan semua atributnya).
Saya merasa teduh bahkan hanya saat berpapasan dan melihat senyumnya. Mendengar suara lembutnya memberi salam. Saya pikir, inilah Islam.
Lalu kami berteman. Saya pernah gemas mendengar cemooh seorang guru mengomentari jilbabnya. Tapi lagi-lagi ia hanya tersenyum dan malah menceritakan kisah Rasulullah SAW yang tetap dalam kesabarannya, padahal ada seorang Yahudi yang setiap hari melemparkan kotoran unta pada Beliau.
"Apa yang saya alami tidak sebanding dengan yang Beliau alami, jadi mengapa saya harus mengeluh?" katanya bijak.
Kemudian ia mengajak saya mengkaji alquran dan hadist. Jadilah saya baru mengenal Islam di usia ke tiga belas tahun. Kelak saya akan mengerti, beratus-ratus orang membaca alquran dan mempelajari hadist, hanya segelintir yang mampu mengambil hikmah Islam yang sebenarnya.
Bahwa Islam adalah agama penuh kelembutan dan cinta kasih.
Sayangnya, saya selalu melewatkan bab tentang jihad. Saya hanya tau bahwa tingkatan jihad paling rendah adalah menahan amarah. Itu saja saya masih sering gagal.
Jadi maafkanlah saya wahai FPI, saya tidak pernah mengerti mengapa bisa-bisanya kalian mengklaim diri sebagai Front Pembela Islam.
Islam yang mana yang kalian bela, kalau yang kalian lakukan adalah melakukan kekerasan atas nama agama?
Atau karena saya tidak bisa mengerti makna jihad bagi kalian?
Mungkin kalian bisa tunjukkan pada saya, di mana ayat alquran atau hadist yang mengatakan bahwa kalian harus memerangi orang-orang yang berjualan makanan di siang hari pada bulan Ramadan.
Pernahkah kalian menonton televisi? Pernah melihat iklan sebuah margarin yang menggambarkan semangat seorang anak SD untuk terus berpuasa, sampai-sampai ia berlari menerobos kumpulan pedagang sambil menutup hidungnya supaya wangi makanan itu tidak merasuk dan merusak puasanya.
Anak kecil saja mengerti bagaimana mengendalikan nafsunya.
Kalau hanya sekadar wangi makanan di pinggir jalan mengganggu puasa kalian, semua orang sudah tau bagaimana kualitas puasa kalian.
Nggak usahlah cari-cari kambing hitam kalau yang bermasalah adalah diri kalian sendiri.
Saya sarankan kalian ganti nama.
Atau mungkin juga kalian merupakan contoh nyata dari Alloh SWT untuk membuktikan kebenaran ayat ini:
Sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar (Fushshilat 35).

*Ditulis saat sedang benar-benar emosi saat melihat siaran televisi tentang sweeping warung-warung makan yang buka di siang hari bulan Ramadan*

Thursday, October 4, 2007

Kisah Ibu Guru

Alkisah,
di sebuah kota yang memiliki gubernur yang bikin busway aja nggak becus tapi punya ambisi mo jadi RI 1, hiduplah seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru CPNS di sebuah sekolah negeri.
Ibu guru yang menghabiskan separuh hidupnya di dalam bus kota ini, telah menemukan cara terbaik untuk mengisi waktu hingga tiba ke tujuan.
Bukan, ia sudah lama berhenti membaca dalam bus ketika tahu bahwa hal itu berpotensi merusak mata.
Tidak, ia juga tidak lagi suka mendengarkan MP3 Player-nya karena konon terlalu lama memakai earphone dapat mengakibatkan ketulian.
Yup,
ia lebih suka membiarkan dirinya berkelana di alam mimpi.
Jadi, ketika siang itu ia naik bus dan tempat satu-satunya adalah di baris kedua dari belakang, di sebelah seorang anak laki-laki usia SD (mungkin tujuh tahun), ia duduk di sana.
Setelah beberapa kali mencuri pandang ke arah si anak SD dan memastikan ia anak baik-baik (baca: bukan copet), tak lama kemudian ibu guru jatuh tertidur.
Sempat terbersit dalam benaknya, "Ni anak cakep juga."
(Harap maklum, ibu guru satu ini punya bakat fedofil. Makanya dia lebih memilih jadi guru SMP daripada guru SMA :P)
Ia terbangun ketika bahu kanannya terasa berat. Ternyata si anak SD terlelap di sana.
Terlelap pasrah dan membiarkan berat kepalanya memenuhi bahu si ibu guru, seakan yakin ia akan aman di sana.
Sebuah keharuan yang aneh merayapi seluruh tubuh ibu guru.
Bercampur rasa sayang dan hasrat ingin memiliki.
Alangkah mengherankan,
tiba-tiba saja ia membayangkan si anak ini adalah anak kandungnya.
Pasti menyenangkan disandari bahu seperti ini oleh anak sendiri, pikirnya.
Lalu bus masuk ke terminal, dan seorang ibu muda dari barisan depan tampak berjalan menuju bangku mereka.
Ibu muda itu tersenyum pada ibu guru, sebuah senyum seakan minta dimaklumi, lalu tangan lembutnya menggapai si anak, "Bangun, Sayang, kita sudah sampai."
Setelah ibu muda itu minta maaf pada ibu guru yang bahunya disandari si anak selama entah berapa lama dan ibu guru menjawab dengan sepenuh hatinya bahwa ia sama sekali tidak keberatan, ibu muda dan anaknya berlalu.
Ibu guru masih terus menatap kedua punggung itu sampai mereka menghilang ditelan keramaian terminal.
Tanpa sadar ia mengusap perutnya, sangat berharap kelak punya anak begitu tampan yang akan bersandar padanya penuh kepercayaan begitu rupa, membuatnya rela melakukan segalanya hanya untuk membuatnya tetap aman dan tersenyum.

Friday, September 14, 2007

Yuk, berlomba-lomba dalam kebaikan ^ ^

Alhamdulillah,
udah Ramadhan lagi.
Mari berbagi sajadah pada orang sebelah yang lupa membawanya.
Mari seperti seorang anak sekolah yang menyumbangkan seluruh uang jajannya ke kotak amal karena ingin Alloh membuatkannya rumah di surga kelak.
Bergabunglah dalam barisan orang-orang yang berbondong-bondong pergi tarawih.
Nikmatilah harum malam hari dalam sujud-sujud tengah malammu.
Mari lakukan kebaikan sekecil apa pun.
Semoga Ramadhan tahun ini menjadikan kita manusia yang lebih baik.
Slamat berpuasa bagi yang mengerjakannya ^ ^