Yah, sebagai orang yang selalu ketinggalan, saya pengen, dong, sekali-sekali duluan, gitu.Maka ketika melihat poster film Perempuan Berkalung Sorban yang keren abis (bayangin, di situ Revalina S. Temat pake jilbab item dan mengalungkan sorban di lehernya, menghadap kamera dengan wajah sendunya nan cantik itu, sementara ia ada di lautan perempuan berjilbab putih yang membelakangi kamera. Nangkep banget kan apa tema filmnya?) dan tau bahwa film ini ada novelnya, beranjaklah saya ke Gunung Agung di Atrium.
Di sana saya dan mas-mas yang sangat berorientasi pelanggan (makasih banyak, ya, Mas) mengubek-ubek rak novel karena novel ini emang nggak terlalu booming jadi susah nyarinya.Setelah ketemu, dengan rasa bahagia yang tak terhingga, saya bayar di kasir dan membacanya sepanjang perjalanan pulang.
Dan mendapati diri saya agak kecewa.
Novel ini, kan, digembar-gemborkan kontroversial. Setelah saya baca, kok , biasa aja. Malah agak mirip pemikiran saya bahwa dalam urusan domestik (rumah tangga), laki-laki lebih beruntung, sebab tugasnya cuma nyari nafkah, sementara perempuan mulai dari subuh sampe tengah malem kerjaannya nggak selesai-selesai (bersyukur suami saya tipe suami yang mau bantu-bantu. Mungkin suami saya berpikiran seterbuka Lek Khudhori ^ ^).
Novel ini juga menekankan perlunya perempuan menuntut ilmu, sekolah tinggi, dan mengembalikan Alquran ke tempat sebenarnya.
Sebetulnya kurang sreg juga karena pergaulan Annisa dengan Lek Khudhori terlalu mesum mengingat di situ Annisa baru berusia 12 tahun, tapi gpp, deh, namanya juga cinta, pikir saya.
Sebetulnya, yang saya tangkap dari novelnya, Abidah mengkritik pesantren yang lebih mementingkan dan manut sama kitab kuning walaupun isinya bertentangan dengan Alquran dan hadits.
Alquran memandang lelaki dan perempuan setara, sedangkan kitab kuning menistakan perempuan.
Herannya, kitab kuning masih aja dipake di pesantren.
Tokoh Annisa di sini adalah anak yang patuh pada orang tua. Pemberontakannya lebih pada konflik batin, pada pemikiran-pemikirannya yang cerdas dan out of the box. Jadi emang novelnya tu sepi konflik.
Yah, saya pikir Hanung yang bisa membuat AAC jauh lebih menyenangkan daripada novelnya, bisa membuat Perempuan Berkalung Sorban juga jadi bagus.
Ealah, ternyata saya berharap terlalu banyak: filmnya malah lebih mengecewakan!Bo, Annisa itu cerdas karena yang dia baca adalah jurnal luar negeri, baca deh novelnya pas bagian dia ke kota bareng temennya.
Bukan karena buku-bukunya Pram!
Plis, deh, Pram kan nggak ada apa-apanya sampe bisa menggerakkan kepribadian seseorang untuk berubah.
Soeharto aja yang terlalu takut makanya Lekra dilarang.
Oiya, dua-duanya udah mati ya. Dilarang menjelek-jelekkan orang yang sudah tiada. Mohon maaf.
Kembali ke film.Annisa adalah keluarga Salafi yang dibesarkan dalam ayat-ayat Alquran dan hadist abis. Makanya walaupun pemberontak, dia punya dasar agama yang kuat.
Annisa novel adalah perempuan yang walaupun mengalami KDRT dalam keluarga, tetap bertahan.
Itu namanya tegar.Annisa film adalah perempuan yang membuka jilbab dan kancing bajunya sambil berteriak, "Zinahi aku, Lek!"
Bo, itu namanya PUTUS ASA!Ya Tuhan, jauh banget loh bedanya tegar dengan putus asa!Dan apa-apaan itu bakar-bakar buku? Emangnya FPI? Juga rajam! Trus, emangnya pesantren bisa merger, yah? LOLIntinya:
film ini lebay (mungkin karena produsernya India), Hanung gagal menemukan Annisa, penulis skenario tampaknya pembenci Islam.
Menontonnya adalah buang uang sia-sia, mending tunggu taun depan, ntar juga tayang di tipi :PNB: yang udah telanjur nonton, belilah novelnya.