dari pertama baca tulisannya di Republika, saya mendapati hati saya langsung jatuh kepadanya.
Dia bisa menuliskan emosi dengan begitu tenang.
Kapan ya, bisa begitu.. :(
Sunday, March 1, 2009
Friday, February 6, 2009
Udah tau bener, kok masih..
Tempo hari saya melihat perempuan sebaik-baik perempuan muslimah.
Pakai gamis ungu polos dan jilbab dengan warna sama. Tidak ada ornamen dalam gamis maupun jilbabnya. Tak bercorak dan tak tipis.
Seperti pernah saya bilang sebelumnya, saya jatuh hati pada Islam lewat perilaku seorang muslimah. Nggak cuma perilaku, tapi juga keanggunan dan kesederhanaan penampilannya.
Dan saya tau bagaimana berjilbab yang benar dan jilbab yang seharusnya.
Tapi kok saya masih begini yah..
Juga sebetulnya saya gemas melihat konsep sederhana jilbab kok seenaknya diubah jadi pakai topilah, dibentuk seakan jalinan rambutlah, selendang panjang dililit-lilitlah, dibentuk-bentuk jadi bungalah, beuh.. ribet ngeliatnya.
Seakan konsep jilbab dari Alloh SWT kurang enak diliat jadi mesti dibentuk "seestetis" dan "semodern" mungkin.
Yuk, bareng-bareng kita kembalikan jilbab ke posisinya semula: agar muslimah lebih dikenali dan tidak diganggu.
Soalnya saya juga masih sering pakai celana panjang dan kaos warna ngejreng, hahahaha..
(malah ketawa, bukannya mikir!)
Dan saya tau bagaimana berjilbab yang benar dan jilbab yang seharusnya.
Tapi kok saya masih begini yah..
Juga sebetulnya saya gemas melihat konsep sederhana jilbab kok seenaknya diubah jadi pakai topilah, dibentuk seakan jalinan rambutlah, selendang panjang dililit-lilitlah, dibentuk-bentuk jadi bungalah, beuh.. ribet ngeliatnya.
Seakan konsep jilbab dari Alloh SWT kurang enak diliat jadi mesti dibentuk "seestetis" dan "semodern" mungkin.
Yuk, bareng-bareng kita kembalikan jilbab ke posisinya semula: agar muslimah lebih dikenali dan tidak diganggu.
Soalnya saya juga masih sering pakai celana panjang dan kaos warna ngejreng, hahahaha..
(malah ketawa, bukannya mikir!)
Haram lagiiii..ah! Haram lagii.. (bacanya sambil ngedangdut ya.. :P)
Kata MUI rokok itu haram.
Eh, udah disahkan blom sih fatwa itu?
Saya mah nggak terlalu peduli.
Nah, itu masalah kedua dalam hal merokok di tempat umum: buang puntung seenaknya aja.
Abis itu, saya bilang, "Mas, jangan dinyalain ya."
Dia juga senyum (walopun kliatan banget senyumnya dipaksain) dan memasukkan kembali rokok serta koreknya ke dalam saku kemeja.
Mendingan emang ditegor sebelum dinyalain kali ya..
Eh, cewek di sebelahnya nengok ke saya dan senyum penuh terima kasih.
Ya, sama-sama, mbak.
Ternyata enak ya kalo pake senyum.
Tapi teteup nggak pake maaf! Ogah banget!
Anehnya, kalo lagi jalan sama suami, saya nggak pernah negor orang yang ngrokok.
Dan mertua saya juga ngrokok, saya nggak berani negornya, hahahahhaha..
Selain itu, dua jenis makhluk perokok lainnya yang hingga detik ini belom berani saya tegor:
1) kenek dan atau supir bus
2) perempuan
I wonder why..
Eh, udah disahkan blom sih fatwa itu?
Saya mah nggak terlalu peduli.
Sejak perda larangan ngrokok kluar aja saya udah ultra girang soalnya berarti saya punya landasan hukum yang kuat (halah..) untuk negor orang yang ngrokok di bus.
Berbeda dengan adik saya si hati lembut nan berjiwa tulus yang akan mengawali tegurannya dengan senyum manis dan berkata, "Pak, maaf, bisa tolong matikan rokoknya?" saya yang darah Palembangnya mengalir deras, nggak bakalan tu pake senyum-senyum.
Apalagi pake maaf!Ya ampun, dalam hal ini siapa yang salah, coba? Mestinya dia dong yang minta maaf ke saya!
Makanya saya sering banget berantem sama perokok. Malah pernah ada yang mukul belakang kepala saya sesaat sebelum dia turun dari bus. Mudah-mudahan sekarang dia kena kanker paru-paru deh.
Kalo diinget-inget lagi, siapa juga yang nggak bakal tersinggung kalo dipelototin dan dibilang dengan ketus, "Pak, rokoknya matiin, dong!"
Hahaha..Terakhir, dua hari yang lalu, dalam 77 yang mulai dipadati penumpang, naiklah si bodoh dengan rokok di mulutnya. Karena tempat duduk udah penuh, dia berdiri. Amboi, kebayang nggak, busnya penuh, bau, kekurangan oksigen, tambah asep rokok! Begitu dia ngepulin asep dari rokoknya, kontan semua orang di sebelah kiri dan kanannya pada tutup hidung. Termasuk saya yang saat itu duduk dua bangku di belakangnya.
Sebel banget!Saya colek si bodoh itu dan bicara dengan nada rendah dan setegas mungkin (kata kakak saya ini poin terpenting dalam negor orang), "Pak, rokoknya dimatiin dong! Ini kan kendaraan umum!"
Dia langsung jatohin rokoknya trus dia injek sampe mati.Nah, itu masalah kedua dalam hal merokok di tempat umum: buang puntung seenaknya aja.
Trus tadi siang, pulang sekolah naek 77 lagi. Begitu masuk, pandangan saya tertumbuk pada seorang cowo yang lagi sibuk ngerogoh kantong. Di mulutnya ada rokok yang belum nyala.
Cewek yang duduk di sebelahnya udah melirik-lirik gelisah.Alhamdulillah bangku belakangnya kosong, jadi saya duduk di situ. Kayanya tu cowo nyari korek api. Kantong celana bagian kanan nihil, bagian kiri juga. Ngerogoh bagian belakang. Eh, ada. Begitu dia keluarin koreknya, saya colek dan hebat sekali saudara-saudara, saya dapat tersenyum dengan tulus!!!!!!
(Tepuk tangan dulu dong)Abis itu, saya bilang, "Mas, jangan dinyalain ya."
Dia juga senyum (walopun kliatan banget senyumnya dipaksain) dan memasukkan kembali rokok serta koreknya ke dalam saku kemeja.
Mendingan emang ditegor sebelum dinyalain kali ya..
Eh, cewek di sebelahnya nengok ke saya dan senyum penuh terima kasih.
Ya, sama-sama, mbak.
Ternyata enak ya kalo pake senyum.
Tapi teteup nggak pake maaf! Ogah banget!
Anehnya, kalo lagi jalan sama suami, saya nggak pernah negor orang yang ngrokok.
Dan mertua saya juga ngrokok, saya nggak berani negornya, hahahahhaha..
Selain itu, dua jenis makhluk perokok lainnya yang hingga detik ini belom berani saya tegor:
1) kenek dan atau supir bus
2) perempuan
I wonder why..
Saturday, January 31, 2009
Hanung Gagal Menemukan Annisa
Yah, sebagai orang yang selalu ketinggalan, saya pengen, dong, sekali-sekali duluan, gitu.
Di sana saya dan mas-mas yang sangat berorientasi pelanggan (makasih banyak, ya, Mas) mengubek-ubek rak novel karena novel ini emang nggak terlalu booming jadi susah nyarinya.
Annisa adalah keluarga Salafi yang dibesarkan dalam ayat-ayat Alquran dan hadist abis. Makanya walaupun pemberontak, dia punya dasar agama yang kuat.
Ya Tuhan, jauh banget loh bedanya tegar dengan putus asa!
Dan apa-apaan itu bakar-bakar buku? Emangnya FPI? Juga rajam!
Trus, emangnya pesantren bisa merger, yah? LOL
Intinya:
film ini lebay (mungkin karena produsernya India), Hanung gagal menemukan Annisa, penulis skenario tampaknya pembenci Islam.
Menontonnya adalah buang uang sia-sia, mending tunggu taun depan, ntar juga tayang di tipi :P
NB: yang udah telanjur nonton, belilah novelnya.
Maka ketika melihat poster film Perempuan Berkalung Sorban yang keren abis (bayangin, di situ Revalina S. Temat pake jilbab item dan mengalungkan sorban di lehernya, menghadap kamera dengan wajah sendunya nan cantik itu, sementara ia ada di lautan perempuan berjilbab putih yang membelakangi kamera. Nangkep banget kan apa tema filmnya?) dan tau bahwa film ini ada novelnya, beranjaklah saya ke Gunung Agung di Atrium.
Di sana saya dan mas-mas yang sangat berorientasi pelanggan (makasih banyak, ya, Mas) mengubek-ubek rak novel karena novel ini emang nggak terlalu booming jadi susah nyarinya.Setelah ketemu, dengan rasa bahagia yang tak terhingga, saya bayar di kasir dan membacanya sepanjang perjalanan pulang.
Dan mendapati diri saya agak kecewa.Novel ini, kan, digembar-gemborkan kontroversial. Setelah saya baca, kok , biasa aja. Malah agak mirip pemikiran saya bahwa dalam urusan domestik (rumah tangga), laki-laki lebih beruntung, sebab tugasnya cuma nyari nafkah, sementara perempuan mulai dari subuh sampe tengah malem kerjaannya nggak selesai-selesai (bersyukur suami saya tipe suami yang mau bantu-bantu. Mungkin suami saya berpikiran seterbuka Lek Khudhori ^ ^).
Novel ini juga menekankan perlunya perempuan menuntut ilmu, sekolah tinggi, dan mengembalikan Alquran ke tempat sebenarnya.
Sebetulnya kurang sreg juga karena pergaulan Annisa dengan Lek Khudhori terlalu mesum mengingat di situ Annisa baru berusia 12 tahun, tapi gpp, deh, namanya juga cinta, pikir saya.
Sebetulnya, yang saya tangkap dari novelnya, Abidah mengkritik pesantren yang lebih mementingkan dan manut sama kitab kuning walaupun isinya bertentangan dengan Alquran dan hadits.
Alquran memandang lelaki dan perempuan setara, sedangkan kitab kuning menistakan perempuan.
Herannya, kitab kuning masih aja dipake di pesantren.
Novel ini juga menekankan perlunya perempuan menuntut ilmu, sekolah tinggi, dan mengembalikan Alquran ke tempat sebenarnya.
Sebetulnya kurang sreg juga karena pergaulan Annisa dengan Lek Khudhori terlalu mesum mengingat di situ Annisa baru berusia 12 tahun, tapi gpp, deh, namanya juga cinta, pikir saya.
Sebetulnya, yang saya tangkap dari novelnya, Abidah mengkritik pesantren yang lebih mementingkan dan manut sama kitab kuning walaupun isinya bertentangan dengan Alquran dan hadits.
Alquran memandang lelaki dan perempuan setara, sedangkan kitab kuning menistakan perempuan.
Herannya, kitab kuning masih aja dipake di pesantren.
Tokoh Annisa di sini adalah anak yang patuh pada orang tua. Pemberontakannya lebih pada konflik batin, pada pemikiran-pemikirannya yang cerdas dan out of the box. Jadi emang novelnya tu sepi konflik.
Yah, saya pikir Hanung yang bisa membuat AAC jauh lebih menyenangkan daripada novelnya, bisa membuat Perempuan Berkalung Sorban juga jadi bagus.
Ealah, ternyata saya berharap terlalu banyak: filmnya malah lebih mengecewakan!Bo, Annisa itu cerdas karena yang dia baca adalah jurnal luar negeri, baca deh novelnya pas bagian dia ke kota bareng temennya.
Bukan karena buku-bukunya Pram!Plis, deh, Pram kan nggak ada apa-apanya sampe bisa menggerakkan kepribadian seseorang untuk berubah.
Soeharto aja yang terlalu takut makanya Lekra dilarang.
Oiya, dua-duanya udah mati ya. Dilarang menjelek-jelekkan orang yang sudah tiada. Mohon maaf.
Kembali ke film.Annisa adalah keluarga Salafi yang dibesarkan dalam ayat-ayat Alquran dan hadist abis. Makanya walaupun pemberontak, dia punya dasar agama yang kuat.
Annisa novel adalah perempuan yang walaupun mengalami KDRT dalam keluarga, tetap bertahan.
Itu namanya tegar.Annisa film adalah perempuan yang membuka jilbab dan kancing bajunya sambil berteriak, "Zinahi aku, Lek!"
Bo, itu namanya PUTUS ASA!Ya Tuhan, jauh banget loh bedanya tegar dengan putus asa!
Dan apa-apaan itu bakar-bakar buku? Emangnya FPI? Juga rajam!
Trus, emangnya pesantren bisa merger, yah? LOL
Intinya:
film ini lebay (mungkin karena produsernya India), Hanung gagal menemukan Annisa, penulis skenario tampaknya pembenci Islam.
Menontonnya adalah buang uang sia-sia, mending tunggu taun depan, ntar juga tayang di tipi :P
NB: yang udah telanjur nonton, belilah novelnya.
Thursday, January 15, 2009
Rumus Kebahagiaan
Ih, waw (terpengaruh Iin di sinetron Kepompong), udah setahun aja nggak posting tulisan :P
Hari ini mo nulis rumus kebahagiaan, ah.
Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang berlipat ganda kalo dibagi.
Kebahagiaan : 2 = kebahagiaan pangkat dua.
Matematika sangat nggak berfungsi bila berurusan dengan perasaan. Sebetulnya menurut saya sih matematika baru berguna buat ngitung pengeluaran dan pemasukan, terutama saat belanja di tukang sayur xD
Oh, enough with this crap, saya akan langsung ke tujuan utama.
Jadi, selama ini saya pikir seluruh pengabdian saya (duh, lebay) hanya akan berujung pada satu hal: Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ternyata oh ternyata, dari seorang senior waktu SMU dulu, saya tahu ada program beasiswa buat guru, ke Jepang!
Ulangi: Jepang!
Sekali lagi: JEPANG!!!
Tapi ya tentunya masih ada serangkaian tes dan wawancara. Dan berhubung saya ini orang yang selalu berpikir positif, saya yakin insya Alloh diterima. Yang jadi masalah kan gimana setelah diterima, ya nggak?
Anak saya si ultra cute Nadya mo dikemanain? Bapaknya sih nggak masalah, udah gede ini :P
Kalopun bisa dibawa dengan biaya sendiri, ntar di sana saya tetep momong bayi dan bukannya belajar. Suami juga nggak mungkin nyari kerja di sana, visanya kan bukan visa kerja.
Jadi, yah... sudahlah... lagian kalopun misalnya di-ACC suami n entah bagaimana caranya ada orang terpercaya untuk dititipin Nadya selama satu setengah tahun, tetep aja saya bakal menyentuh kelopak bunga sakura, menghirup wanginya, menggenggam salju, pergi ke kuil, menyaksikan bon odori, ke harajuku : sendirian.
Apa enaknya?
Hari ini mo nulis rumus kebahagiaan, ah.
Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang berlipat ganda kalo dibagi.
Kebahagiaan : 2 = kebahagiaan pangkat dua.
Matematika sangat nggak berfungsi bila berurusan dengan perasaan. Sebetulnya menurut saya sih matematika baru berguna buat ngitung pengeluaran dan pemasukan, terutama saat belanja di tukang sayur xD
Oh, enough with this crap, saya akan langsung ke tujuan utama.
Jadi, selama ini saya pikir seluruh pengabdian saya (duh, lebay) hanya akan berujung pada satu hal: Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ternyata oh ternyata, dari seorang senior waktu SMU dulu, saya tahu ada program beasiswa buat guru, ke Jepang!
Ulangi: Jepang!
Sekali lagi: JEPANG!!!
Tapi ya tentunya masih ada serangkaian tes dan wawancara. Dan berhubung saya ini orang yang selalu berpikir positif, saya yakin insya Alloh diterima. Yang jadi masalah kan gimana setelah diterima, ya nggak?
Anak saya si ultra cute Nadya mo dikemanain? Bapaknya sih nggak masalah, udah gede ini :P
Kalopun bisa dibawa dengan biaya sendiri, ntar di sana saya tetep momong bayi dan bukannya belajar. Suami juga nggak mungkin nyari kerja di sana, visanya kan bukan visa kerja.
Jadi, yah... sudahlah... lagian kalopun misalnya di-ACC suami n entah bagaimana caranya ada orang terpercaya untuk dititipin Nadya selama satu setengah tahun, tetep aja saya bakal menyentuh kelopak bunga sakura, menghirup wanginya, menggenggam salju, pergi ke kuil, menyaksikan bon odori, ke harajuku : sendirian.
Apa enaknya?
Wednesday, December 3, 2008
Hati-hati ya kalo jalan..
Kalo kamu selalu berangkat pada jam yang sama setiap harinya dan menempuh rute yang sama pula dengan kendaraan umum yang sama, apa yang terjadi?
Yup, orang-orang yang kamu temui juga pasti yang itu-itu saja.
Itulah hal yang saya alami selama ini. Bahkan saya punya patokan, kalo saya naek mikrolet dan ktemu anak-anak didik saya di Muhammadiyah dulu, berarti saya sudah kesiangan. Kalo saya papasan dengan cewek cantik berkacamata di jembatan penyebrangan, berarti saya jauh lebih kesiangan. Kalo di halte saya melihat cewek berjilbab yang penampakannya seperti anak kuliahan dan selalu naek bus 46 udah gitu dia selalu pake baju bernuansa pink (sepertinya kami sejenis) berarti saya tepat waktu.
Nah, di antara orang-orang itu ada sepasang lelaki dan perempuan yang dari turun mikrolet sampe nyebrang tangga penyebrangan dan sampe di tempat nunggu bus selalu jalan bergandengan.
Sebetulnya sejak pertama kali ngliat mereka, saya udah pengen motret. Tapi selalu ada orang di belakang saya. Kan nggak enak, ntar mereka ngiri pengen dipotret juga :P
Tapi kalo emang jodoh ya, kmaren kami bareng lagi dan di belakang saya sepi! Oho, kesempatan pantang disia-siakan!
Maka inilah dia:

Saya suka sih ngliat orang-orang bergandengan tangan. Karena tangan yang menggandeng akan berkata, "Aku akan melindungimu."
dan tangan yang digandeng menjawab, "Aku percaya."
Gombal? Pastinya! Kan udah pernah dibahas di sini :P
Sekarang pesan saya buat mereka yang bergandengan di jalan, waspadalah! Siapa tau saya ada di belakang kalian! Wahahahahahaha..
Yup, orang-orang yang kamu temui juga pasti yang itu-itu saja.
Itulah hal yang saya alami selama ini. Bahkan saya punya patokan, kalo saya naek mikrolet dan ktemu anak-anak didik saya di Muhammadiyah dulu, berarti saya sudah kesiangan. Kalo saya papasan dengan cewek cantik berkacamata di jembatan penyebrangan, berarti saya jauh lebih kesiangan. Kalo di halte saya melihat cewek berjilbab yang penampakannya seperti anak kuliahan dan selalu naek bus 46 udah gitu dia selalu pake baju bernuansa pink (sepertinya kami sejenis) berarti saya tepat waktu.
Nah, di antara orang-orang itu ada sepasang lelaki dan perempuan yang dari turun mikrolet sampe nyebrang tangga penyebrangan dan sampe di tempat nunggu bus selalu jalan bergandengan.
Sebetulnya sejak pertama kali ngliat mereka, saya udah pengen motret. Tapi selalu ada orang di belakang saya. Kan nggak enak, ntar mereka ngiri pengen dipotret juga :P
Tapi kalo emang jodoh ya, kmaren kami bareng lagi dan di belakang saya sepi! Oho, kesempatan pantang disia-siakan!
Maka inilah dia:
Saya suka sih ngliat orang-orang bergandengan tangan. Karena tangan yang menggandeng akan berkata, "Aku akan melindungimu."
dan tangan yang digandeng menjawab, "Aku percaya."
Gombal? Pastinya! Kan udah pernah dibahas di sini :P
Sekarang pesan saya buat mereka yang bergandengan di jalan, waspadalah! Siapa tau saya ada di belakang kalian! Wahahahahahaha..
Thursday, November 27, 2008
Beneran toh jadi anak sekolah masuk jam stengah tujuh pagi?
Udah pernah saya bahas di sini sih, silaken baca.
Btw, banyak sekolahan loh di Sudirman, trus pulangnya dari jam tiga sore sampe jam sembilan malem, makanya di sana selalu macet. Gimana tu pak gubernur? Mo ditutup aja smua skolahan di sana? :p
Udah pernah saya bahas di sini sih, silaken baca.
Btw, banyak sekolahan loh di Sudirman, trus pulangnya dari jam tiga sore sampe jam sembilan malem, makanya di sana selalu macet. Gimana tu pak gubernur? Mo ditutup aja smua skolahan di sana? :p
Subscribe to:
Posts (Atom)
